Kabanagari.id, Sijunjung – Pengelolaan limbah menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Untuk mendukung upaya tersebut, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Badunsanak, Nagari Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, bekerja sama dengan Bank Sampah HOPE menggelar pelatihan pengolahan sampah organik bagi relawan dan karyawan dapur.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam memilah serta mengolah sampah yang dihasilkan dari aktivitas operasional dapur MBG. Pelatihan tidak hanya memberikan pemahaman secara teori, tetapi juga dilengkapi dengan praktik langsung pengolahan sampah organik.
Dalam kegiatan tersebut, tim Bank Sampah HOPE yang dipelopori Govvinda Yuli Efendi memberikan edukasi mengenai pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Langkah ini menjadi bagian penting untuk mengurangi sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), sekaligus membuka peluang pemanfaatan limbah organik menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Asisten Lapangan SPPG Yayasan Badunsanak Sijunjung, Taufik, S.Pt., mengapresiasi keterlibatan Bank Sampah HOPE dalam memberikan pendampingan kepada para relawan dan karyawan dapur.
Menurutnya, pengetahuan dan praktik yang diberikan menjadi bekal bagi pengelola dapur untuk membangun pola pengelolaan sampah yang lebih terarah dan berkelanjutan.
“Kami dari pihak SPPG Yayasan Badunsanak Sijunjung mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada tim Bank Sampah HOPE yang telah berbagi ilmu dan praktik langsung pengolahan sampah organik kepada seluruh relawan dan karyawan dapur,” ujar Taufik.
Lebih dari sekadar mengurangi timbulan sampah, pengolahan limbah organik tersebut juga diarahkan untuk menghasilkan pupuk organik yang berpotensi dimanfaatkan oleh masyarakat, khususnya petani di lingkungan sekitar.
Pemanfaatan ini membuka peluang keterhubungan antara pelaksanaan program MBG dengan sektor pertanian. Limbah organik dari aktivitas dapur dapat diolah menjadi bahan yang bermanfaat bagi kegiatan budidaya pertanian, sehingga memiliki nilai tambah apabila dikelola secara tepat.
Dengan demikian, pengelolaan sampah menjadi salah satu aspek pendukung yang dapat memperluas manfaat program MBG. Selain berorientasi pada pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, kegiatan pendukung seperti ini juga berpotensi mendorong ekonomi sirkular melalui pemanfaatan kembali limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.
Meski demikian, keberlanjutan program tersebut memerlukan konsistensi pemilahan sampah, pendampingan teknis, serta pengelolaan hasil olahan agar pupuk organik yang dihasilkan dapat dimanfaatkan secara optimal.
Taufik berharap pelatihan serupa dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan melalui berbagai inovasi pengolahan sampah lainnya.
“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan dikembangkan melalui berbagai inovasi pengolahan sampah lainnya. Dengan demikian, pelaksanaan program MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga memperhatikan tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan,” tuturnya.
Kolaborasi SPPG Badunsanak dan Bank Sampah HOPE tersebut menjadi salah satu upaya membangun kesadaran bahwa pengelolaan lingkungan perlu berjalan beriringan dengan pelaksanaan program pelayanan masyarakat, termasuk MBG.(*)
