Kabanagari.id, Sijunjung – Tim Ekspedisi Patriot Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama Pemerintah Kabupaten Sijunjung menyusun feasibility study (FS) dan business plan pengembangan hilirisasi kelapa sawit berbasis koperasi di Kawasan Transmigrasi Muara Takung–Kamang Baru.
Pembahasan kajian tersebut dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) di Aula Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Kabupaten Sijunjung, Kamis (17/9/2026). Kajian ini merupakan bagian dari upaya memetakan potensi pengembangan ekonomi kawasan sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan masyarakat.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot IPB, Dr. Veralianta Br. Sebayang, S.P., M.Si., mengatakan FS disusun untuk mengukur kelayakan usaha dari berbagai aspek, mulai dari finansial, manajemen, kelembagaan, pasar, produksi hingga ketersediaan bahan baku.
Menurutnya, kelapa sawit menjadi salah satu komoditas unggulan berdasarkan pemetaan tim pada 2025. Pada tahun kedua, kajian diarahkan pada peluang hilirisasi agar komoditas tersebut mampu memberikan nilai tambah lebih besar bagi masyarakat.
“Tahun lalu kami melakukan pemetaan untuk melihat komoditas unggulan yang ada di lokus transmigrasi. Dari hasil pemetaan tersebut, kelapa sawit menjadi komoditas unggulan utama di Kawasan Muara Takung–Kamang Baru,” ujarnya.
Veralianta menyebut hasil kajian 2026 akan menjadi rekomendasi untuk tahapan implementasi pada 2027. Selain aspek bisnis, pengembangan sumber daya manusia juga dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan kawasan.
Koperasi Jadi Penghubung Petani dan Industri
Narasumber FGD, Dr. Rasidin Karo Karo Sitepu, S.P., M.Si., menekankan pentingnya memastikan ketersediaan bahan baku sebelum pembangunan unit pengolahan sawit dilakukan.
Potensi produksi tandan buah segar (TBS), kata dia, perlu dihitung secara rinci dan disesuaikan dengan kemampuan koperasi dalam menghimpun pasokan.
“Secara konsep, dari sisi input sebenarnya cukup. Tetapi yang harus kita pastikan adalah apakah koperasi mampu menangkap pasokan tersebut. Kalau pabrik tidak berjalan sesuai kapasitasnya, secara bisnis akan mengalami kerugian,” katanya.
Ia menilai koperasi dapat menjadi penghubung antara petani dan industri, terutama dalam mengonsolidasikan pasokan TBS, menjaga kualitas, mengatur logistik serta membangun mekanisme pemasaran yang lebih terorganisasi.
Untuk mendukung penyusunan FS, Tim Ekspedisi Patriot IPB telah melakukan wawancara dengan sejumlah koperasi dan kelompok tani guna memetakan kondisi kelembagaan, aktivitas ekonomi dan pola pemasaran TBS.
Pemkab Minta Dampak Ekonomi Diperhitungkan
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Sijunjung, Aprizal, M.Si., mengapresiasi kajian tersebut.
Ia berharap pengembangan kawasan transmigrasi tidak hanya menciptakan aktivitas usaha baru, tetapi juga berdampak terhadap pendapatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah.
“Kami berharap investasi ini nantinya bisa memberikan lonjakan terhadap perekonomian. Karena itu, kajiannya perlu dipertajam, termasuk bagaimana dampaknya terhadap pendapatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi Sijunjung,” ujarnya.
Pemkab juga meminta perencanaan mempertimbangkan karakteristik wilayah dan kearifan lokal agar program yang dirancang dapat diterima masyarakat dan berkelanjutan.
Hilirisasi Tak Berhenti di CPO
Dalam FGD, pengembangan hilirisasi sawit juga diarahkan agar tidak berhenti pada produksi crude palm oil (CPO).
Produk turunan seperti minyak goreng, margarin, kosmetik dan produk lainnya dinilai perlu dikaji untuk melihat peluang peningkatan nilai ekonomi komoditas sawit.
Veralianta mengatakan berbagai masukan tersebut akan menjadi bahan penyempurnaan kajian.
“Kami menerima masukan dari bapak dan ibu semua. Sebelumnya kami juga sudah mencoba pengembangan dari CPO sampai minyak goreng. Ke depan, bukan hanya minyak goreng, tetapi bisa melihat margarin, kosmetik dan produk turunan lainnya,” katanya.
FS Diharapkan Buka Peluang Investasi
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Sijunjung menilai FS yang komprehensif dapat menjadi dokumen pendukung untuk menawarkan potensi hilirisasi daerah kepada investor.
Kepastian bahan baku, pasar dan informasi usaha dinilai perlu disajikan secara jelas agar investor memperoleh gambaran mengenai peluang investasi yang tersedia.
“Kalau FS ini sudah jelas, kita lebih gampang menjual kepada investor. Investor sebenarnya banyak yang berminat, tetapi kami masih minim informasi dan data. Tidak hanya potensi, tetapi pasar dan market juga harus jelas supaya investor tidak ragu lagi,” ujar pihak DPMPTSP.
Selain sawit di Muara Takung–Kamang Baru, Tim Ekspedisi Patriot IPB juga melakukan pendampingan terhadap komoditas pisang kepok di Padang Tarok yang diarahkan untuk pengembangan tepung pisang.
Hasil FGD dan berbagai masukan dari pemangku kepentingan selanjutnya akan menjadi bahan penyempurnaan FS dan business plan. Kajian tersebut diharapkan menjadi dasar rekomendasi pengembangan hilirisasi kelapa sawit berbasis koperasi di Kawasan Transmigrasi Muara Takung–Kamang Baru.(*)












