Kabanagari.id, Sijunjung – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University melatih kelompok wanita tani (KWT) dan anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Nagari Kamang, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, mengolah limbah kelapa sawit dan peternakan menjadi pupuk organik yang berpotensi memiliki nilai ekonomi.
Pelatihan manajemen usaha agroindustri sawit tersebut digelar di Kebun Percontohan KWT Bunda Makmur, Jorong Timpeh 4, Kamang Makmur, Kawasan Transmigrasi Muara Takung–Kamang Baru, Selasa (13/10/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya lokal sekaligus mendorong pengembangan usaha berbasis pertanian.
Pelatihan menghadirkan Dr. Rasidin Karo Karo Sitepu, S.P., M.Si., yang memaparkan manajemen usaha agroindustri sawit dan peluang pengolahan limbah menjadi produk bernilai tambah. Peserta juga mengikuti demonstrasi pembuatan kompos dari tandan kosong kelapa sawit (TKKS) serta pupuk organik cair (POC) berbahan limbah peternakan.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot IPB, Dr. Veralianta Br. Sebayang, S.P., M.Si., mengatakan limbah perkebunan dan peternakan memiliki potensi untuk dimanfaatkan lebih optimal, tidak hanya sebagai pendukung kegiatan pertanian, tetapi juga sebagai peluang usaha masyarakat.
“Limbah kelapa sawit dan peternakan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat bagi kegiatan pertanian serta berpotensi memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.
Dalam sesi praktik, anggota TEP IPB, Sinta Naria Suryani, S.P., memperagakan pengolahan TKKS menjadi kompos. Prosesnya meliputi persiapan bahan, pencampuran larutan dekomposer EM4 dengan larutan gula merah atau molase, serta pengaturan kelembapan selama penguraian hingga kompos matang.
Peserta juga diperlihatkan perbedaan kondisi TKKS yang baru diperoleh dari pabrik kelapa sawit dengan bahan yang telah menjalani fermentasi selama dua minggu. Praktik tersebut memberikan gambaran awal mengenai tahapan pengolahan limbah sawit sebelum dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Sinta menjelaskan bahwa pengolahan TKKS membutuhkan tahapan yang tepat dan pemantauan berkala agar proses penguraian berjalan dengan baik. Dengan keterampilan tersebut, masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan limbah yang tersedia di lingkungan sekitar untuk mendukung kegiatan perkebunan.
Salah seorang anggota KWT Bunda Makmur mengaku memperoleh pengetahuan baru dari pelatihan tersebut. Sebelumnya, tandan kosong kelapa sawit kerap langsung ditaburkan di sekitar tanaman tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu.
“Sekarang kami jadi tahu bahwa TKKS perlu dicacah dan diolah terlebih dahulu. Di sini ada pabrik kelapa sawit, dan limbah yang sudah dihancurkan juga masih banyak yang dibiarkan. Ternyata, limbah tersebut berpotensi dimanfaatkan setelah melalui proses pengolahan yang tepat,” katanya.
Selain kompos, peserta mempelajari pembuatan POC berbahan dasar limbah peternakan. Dalam demonstrasi tersebut, pelaku usaha kelapa sawit sekaligus peternak, Ridhatul Alpadli, memperkenalkan pemanfaatan kotoran ternak, urine kambing, molase atau gula merah, air, dan Trichoderma sebagai bahan dalam proses pembuatan pupuk organik cair.
Ridhatul mengatakan, pemanfaatan limbah peternakan dapat mendukung kebutuhan pemupukan perkebunan. Ia juga membagikan pengalamannya memanfaatkan kotoran dari 16 ekor kambing untuk mendukung pemupukan sekitar 10 hektare kebun sawit miliknya.
Menurut dia, keterkaitan usaha peternakan dan perkebunan membuka peluang pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien, sepanjang pengolahan dilakukan dengan tepat.
Kepala Jorong Timpeh 4, Kamang Makmur, turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia berharap pelatihan yang diberikan Tim Ekspedisi Patriot IPB dapat menambah pengetahuan masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal.
Melalui kegiatan ini, TEP IPB berharap keterampilan anggota KWT dan PKK dapat dikembangkan menjadi praktik berkelanjutan, sekaligus membuka peluang usaha baru melalui pengolahan limbah perkebunan dan peternakan.
Inisiatif tersebut diharapkan dapat mendukung hilirisasi komoditas kelapa sawit dan pengembangan ekonomi masyarakat di Kawasan Transmigrasi Muara Takung–Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung.(*)












